Memaknai Kemerdekaan

Dalam hidup manusia terikat oleh dua hal, yaitu hak dan kewajiban.Salah satu hak kita sebagai manusia adalah hak untuk merdeka. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, ‘Merdeka’ bearti bebas dari terikat, bebas melakukan apa yang kita ingin lakukan. Tapi sangat kurang kita pahami, terutama belakangan ini ketika isu sentiment primodialisme begitu kuat mencuat adalah, kemerdekaan itu bersifat social bukan individual.

Ambil contoh begini kita punya kemerdekaan untuk memutar music keras-keras hingga telinga kita tuli, hingga suaranya terdengar ke seantero kampung, tetapi tetangga-tetangga kita juga punya kemerdekaan yang sama besar untuk tidak merasa terganggu. Jadi, ketika mereka memprotes apa yang kita lakukan, kita tidak boleh tersinggung, nyinyir, apalagi lantas marah-marah dan berbuat onar karena sesungguhnya apa yang mereka lakukan adalah mempertahankan kemerdekaan yang kita renggut dari mereka. Contoh lain misalnya, trotoar di bangun untuk kenyamanan pejalan kaki dan mereka tentu saja punya kemerdekaan penuh untuk menggunakannya dengan nyaman. Lalu, apakah para pengendara sepeda motor, tukang dagang, tukang parker tidak boleh menggunakannya untuk kepentingan mereka atas nama kemerdekaan yang mereka punya? Tentu saja boleh. Tapi ingat, ketika si empunya trotoar merasa kenyamanan mereka terganggu dan mereka melakukan protes, jangan memaki-maki dengan bahasa yang kasar apalagi sampai baku hantam karena lagi-lagi yang mereka lakukan adalah bangian dari mempertahankan kemerdekaan mereka.

Dari dua contoh di atas bisa kita bayangkan betapa chaos nya kehidupan kita jika kemerdekaan satu individu berbenturan dengan kemerdekaan individu lainnya tanpa ada yang menengahi. Maka melalui konsensus yang panjang dan atas dasar saling menghargai terbentuklah norma-norma social, moral, undang-undang, dan berbagai tata laku kehidupan lainnya agar kehidupan kita berjalan seimbang dan harmonis.

Merdeka dan kemerdekaan hanya soal itu. Soal memahami, menghargai, menghormati dan mematuhi dengan kesadaran penuh. Hanya orang-orang tolol tak punya otak yang dengan enteng mengatakan bahwa peraturan itu di ciptakan untuk dilanggar. Orang-orang seperti ini “tenggelamkan saja di laut” meminjam bahasa menteri Susi.

Penulis: 
Dedi,B.Ed
Sumber: 
Muhammad Nurhadi Perdana, S.sos
Tags: 
Kemerdekaan

Artikel

20/02/2015 | fadillah Imam
122 kali dilihat
04/09/2015 | Fadhilah Imam
120 kali dilihat
26/12/2014 | fadillah Imam
35 kali dilihat
26/12/2014 | fadillah Imam
29 kali dilihat
04/09/2015 | ARIE IZANDRA, S. Pd.
28 kali dilihat